Senin, 26 Oktober 2009

Pendidikan Jasmani


1..Pengertian

Pendidikan jasmani merupakan suatu proses seseorang sebagai individu maupun anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan dalam rangka memperoleh kemampuan dan keterampilan jasmani, pertumbuhan, kecerdasan, dan pembentukan watak

Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional2. Tujuan Pendidikan Jasmani

1.Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih

2.Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik

3. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar

4.Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan

5.Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis

6.Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan

7. Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif.

3.Ruang Lingkup Pendidikan Jasmani

1.Permainan dan olahraga meliputi: olahraga tradisional, permainan. eksplorasi gerak, keterampilan lokomotor non-lokomotor,dan manipulatif, atletik, kasti, rounders, kippers, sepak bola, bola basket, bola voli, tenis meja, tenis lapangan, bulu tangkis, dan beladiri, serta aktivitas lainnya

2. Aktivitas pengembangan meliputi: mekanika sikap tubuh, komponen kebugaran jasmani, dan bentuk postur tubuh serta aktivitas lainnya

3. Aktivitas senam meliputi: ketangkasan sederhana, ketangkasan tanpa alat, ketangkasan dengan alat, dan senam lantai, serta aktivitas lainnya

4. Aktivitas ritmik meliputi: gerak bebas, senam pagi, SKJ, dan senam aerobic serta aktivitas lainnya

5.Aktivitas air meliputi: permainan di air, keselamatan air, keterampilan bergerak di air, dan renang serta aktivitas lainnya

6.Pendidikan luar kelas, meliputi: piknik/karyawisata, pengenalan lingkungan, berkemah, menjelajah, dan mendaki gunung

7.Kesehatan, meliputi penanaman budaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari, khususnya yang terkait dengan perawatan tubuh agar tetap sehat, merawat lingkungan yang sehat, memilih makanan dan minuman yang sehat, mencegah dan merawat cidera, mengatur waktu istirahat yang tepat dan berperan aktif dalam kegiatan P3K dan UKS. Aspek kesehatan merupakan aspek tersendiri, dan secara implisit masuk ke dalam semua aspek.

4. Gerak sebagai kebutuhan anak

Dunia anak-anak adalah dunia yang segar, baru, dan senantiasa indah, dipenuhi keajaiban dan keriangan. Demikian Rachel Carson dalam sebuah ungkapannya. Namun demikian, menurut Carson, adalah kemalangan bagi kebanyakan kita bahwa dunia yang cemerlang itu terenggut muram dan bahkan hilang sebelum kita dewasa.

Dunia anak-anak memang menakjubkan, mengandung aneka ragam pengalaman yang mencengangkan, dilengkapi berbagai kesempatan untuk memperoleh pembinaan . Bila guru masuk ke dalam dunia itu, ia dapat membantu anak-anak untuk mengembangkan pengetahuannya, mengasah kepekaan rasa hatinya serta memperkaya keterampilannya.

Bermain adalah dunia anak. Sambil bermain mereka belajar. Dalam hal belajar, anak-anak adalah ahlinya. Segala macam dipelajarinya, dari menggerakkan anggota tubuhnya hingga mengenali berbagai benda di lingkungan sekitarn

5.Perbedaan Makna Pendidikan Jasmani Dan Pendidikan Olahraga

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan oleh guru-guru penjas belakangan ini adalah : “Apakah pendidikan jasmani?” Pertanyaan yang cukup aneh ini justru dikemukakan oleh yang paling berhak menjawab pertanyaan tersebut.

Hal tersebut mungkin terjadi karena pada waktu sebelumnya guru itu merasa dirinya bukan sebagai guru penjas, melainkan guru pendidikan olahraga. Perubahan pandangan itu terjadi menyusul perubahan nama mata pelajaran wajib dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, dari mata pelajaran pendidikan olahraga dan kesehatan (orkes) dalam kurikulum 1984, menjadi pelajaran “pendidikan jasmani dan kesehatan” (penjaskes) dalam kurikulum1994.

Perubahan nama tersebut tidak dilengkapi dengan sumber belajar yang menjelaskan makna dan tujuan kedua istilah tersebut. Akibatnya sebagian besar guru menganggap bahwa perubahan nama itu tidak memiliki perbedaan, dan pelaksanaannya dianggap sama. Padahal muatan filosofis dari kedua istilah di atas sungguh berbeda, sehingga tujuannya pun berbeda pula. Pertanyaannya, apa bedanya pendidikan olahraga dengan pendidikan jasmani ?

Pendidikan jasmani berarti program pendidikan lewat gerak atau permainan dan olahraga. Di dalamnya terkandung arti bahwa gerakan, permainan, atau cabang olahraga tertentu yang dipilih hanyalah alat untuk mendidik. Mendidik apa ? Paling tidak fokusnya pada keterampilan anak. Hal ini dapat berupa keterampilan fisik dan motorik, keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah, dan bisa juga keterampilan emosional dan sosial.

Karena itu, seluruh adegan pembelajaran dalam mempelajari gerak dan olahraga tadi lebih penting dari pada hasilnya. Dengan demikian, bagaimana guru memilih metode, melibatkan anak, berinteraksi dengan murid serta merangsang interaksi murid dengan murid lainnya, harus menjadi pertimbangan utama

Olahraga merupakan bahasa universal yang sangat popular di masyarakat Indonesia, karena dengan berolahraga maka kita telah mengakomodir sisi kehidupan manusia yang hakiki yaitu bergerak. Dengan berolahraga maka pergerakan tubuh kita akan semakin optimal dan nyaman. Dalam dunia pendidikan olahraga juga menjadi sarana yang sangat penting untuk mengakselerasi kemampuan daya tangkap otak karena bergeraknya tubuh akan meningkatkan kemampuan otak menangkap segala bentuk pembelajaran yang diberikan di sekolah.

Oleh karena itu olahraga dan dunia pendidikan menjadi dua sisi mata uang yang tidak dapat terpisahkan, saling membutuhkan layaknya simbiosis mutualisme. Penerapan olahraga dalam pendidikan menjadi perbincangan para ilmuwan olahraga, karena pada fase inilah beberapa cabang olahraga prestasi dapat mulai melakukan pembibitan dan pembinaan calon atlit-atlit terbaiknya. Karena pada fase sekolah dasar tersebut beberapa serat otot masih dapat di mobilisasi secara optimal.
Olahraga prestasi yang menjadi tanggungjawab KONI dan pengurus cabang olahraga di kota Depok memiliki klub-klub yang sebagian besar pesertanya adalah peserta didik di sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa perlu adanya koordinasi yang konstruktif antara KONI dengan Dinas Pendidikan Kota Depok.
Dalam perjalanannya aspek motorik yang sudah di bibit dan di bina oleh beberapa cabang olahraga mendapatkan respon yang beragam dari institusi pendidikan tempat para atlit/siswa belajar, antara lain:
1. Penghargaan dan kompensasi bagi mereka yang berprestasi dalam dunia olahraga
2. Tuntutan akademik yang terlalu tinggi, sehingga sulitnya atlit/siswa untuk berlatih
3. Sulitnya para atlit/siswa untuk mendapatkan dispensasi untuk mengikuti kompetisi
4. Belum adanya kerjasama yang sinergis antara institusi pendidikan dan olahraga dalam meningkatkan potensi atlit yang potensial
5. Pandangan yang parsial, bahwa olahraga hanya sebagai hoby bukan profesi.
Kalau kita melihat perkembangan olahraga di belahan Negara lain, betapa olahraga menjadi ajang kapitalisasi yang sangat signifikan, sebagai contoh ajang sepakbola, basket, tennis dan cabang olahraga lainnya, telah menjadi profesi yang sangat diminati. Saat ini di dunia olahraga Indonesia juga sudah mulai menghargai atlit-atlit berprestasi dengan maraknya jual beli atlit untuk event-event daerah maupun nasional.
Untuk itu sebagai potensi yang juga signifikan bagi kemajuan olahraga berprestasi di Indonesia dan khususnya Kota Depok, maka antara KONI Kota Depok dengan Dinas Pendidikan Kota Depok harus menyatukan persepsi dan langkah untuk membuat sebuah rumusan, antara lain:
1. Membuat kategori sekolah-sekolah rujukan bagi atlit-atlit yang berprestasi
2. Membuat stratifikasi penghargaan bagi atlit-atlit yang berprestasi
3. Mengatur regulasi dispensasi bagi atlit yang akan bertanding
4. Membuat region-region olahraga unggulan diseluruh sekolah di kota depok
5. Pemassalan olahraga unggulan diseluruh sekolah
6. Membuat kompetisi tingkat sekolah dengan bekerjasama dengan pengcab olahraga
7. Meningkatkan sarana dan prasarana olahraga unggulan di sekolah
8. Membuat berbagai penataran pelatih dan wasit
9. Membuat komunitas pelatih dan wasit olahraga
Komitmen kita untuk membangun manusia seutuhnya yang berkualitas dan berdaya juang hanya bisa dicapai dengan kita mengoptimalkan seluruh potensi peserta didik dengan berbagai macam kegiatan yang mampu meningkatkan kemampuan mereka. Sehingga tidak ada lagi predikat “anak bodoh” dalam dunia pendidikan yang ada hanya belum tersalurkannya potensi yang mereka miliki.
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India